browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

“Berdakwah melalui Politik” vs “Berpolitik melalui Dakwah”

Posted by on March 24, 2014

Kedua pernyataan di atas sekilas nampak mirip, tapi jika kita perhatikan dan kita renungkan secara mendalam ada perbedaan pengertian yang sangat mendasar.

“Berdakwah melalui politik”. Unsur utama dan terpenting dalam pernyataan ini adalah “BERDAKWAH”. Dakwah pastilah dilakukan dalam koridor idealisme, dalam hal ini agama, dan tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan disekitarnya. Artinya, seseorang yang berdakwah, tujuan utamanya adalah menyampaikan tuntunan agama kepada orang lain agar orang tersebut selamat hidupnya dunia akhirat.

Seseorang yang berdakwah sudah seharusnya tidak berorientasi pada materi dan hal-hal yang bersifat duniawi, namun dilakukan dengan orientasi spiritual yaitu hanya mengharapkan ridho-Nya. Jika ternyata dakwah yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang bersifat duniawi, maka itu harus dipandang sebagai anugerah dari-Nya dan bukan tujuan.

Dakwah tidak hanya dapat dilakukan melalui majelis ta’lim dan kegiatan pengajian, tapi dapat juga dilakukan melalui berbagai jalur dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti melalui pendidikan, perdagangan, politik, dll. Jika dakwah dilakukan melalui politik, maka orientasinya adalah kemaslahatan masyarakat dan ridho dari-Nya. Jika seseorang atau suatu organisasi yang berdakwah melalui politik memperoleh jabatan atau kekuasaan tertentu, maka hal ini adalah amanah dari-Nya semata-mata untuk memperluas cakupan dakwah yang dilakukan. Jabatan atau kekuasaan itu murni atas pemberian-Nya dan bukan atas kesepakatan-kesepakatan politik yang dilakukan.

Bagaimana halnya dengan “Berpolitik melalui dakwah”? Dalam pernyataan ini unsur terpentingnya adalah “BERPOLITIK”. Di sini aspek politik lebih diutamakan dibanding aspek dakwah. Atribut dakwah digunakan agar menjadi lebih menarik dan lebih dipercaya oleh masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh materi, kekuasaan, atau sesuatu yang bersifat duniawi lainnya.

Seseorang atau suatu organisasi yang berpolitik melalui dakwah seringkali menggunakan atribut-atribut dakwah dalam melakukan lobi-lobi politik. Di sini kekuasaan menjadi tujuan utamanya. Akibatnya, kebijakan dan sikap dari orang atau organisasi ini dapat tiba-tiba berubah menyesuaikan dinamika politik yang ada agar yang bersangkutan tetap berada dalam lingkaran kekuasaan, mendapat simpati masyarakat, atau alasan-lain yang bersifat duniawi. Biasanya alasan klasik yang diberikan dan disampaikan ke masyarakat adalah bahwa dengan masuk dalam lingkaran kekuasaan yang ada, maka dakwah akan lebih mudah dilakukan.

Saat ini kita lihat banyak partai politik yang menggunakan atribut dakwah dalam aktivitasnya. Adakah partai yang benar-benar berdakwah melalui jalur politik? Suatu partai yang berdakwah melalui jalur politik mestinya tidak akan berkoalisi dengan partai lain, khususnya yang tidak berorientasi dakwah, kecuali jika partai dakwah tersebut berada pada posisi pemimpin koalisi atau pemenang pemilu. Partai ini tidak bisa berkoalisi di bawah partai lain, bukan karena tidak mampu bekerjasama, melainkan karena landasan spiritual dalam pengambilan keputusannya berbeda.

Marilah kita menjadi pemilih yang cerdas dalam pemilu.

Semoga bermanfaat.

 

 

Comments are closed.